Selasa, 31 Agustus 2010

Yang Benar dan Salah dari Serat

Yang Benar dan Salah dari Serat

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Semua orang dianjurkan untuk mengonsumsi banyak serat yang baik bagi kesehatan. Tapi seberapa penting dan seberapa banyak serat yang dibutuhkan? Ketahui 7 hal mengenai serat.

Serat adalah salah satu jenis karbohidrat yang membentuk struktural dari daun, batang dan akar tanaman. Tapi serat berbeda dengan gula dan pati karena gula dan pati tetap utuh hingga mendekati tahap akhir sistem pencernaan. Hal inilah yang membuat serat lebih bermanfaat bagi tubuh.

Dikutip dari Menshealth, Senin (30/8/2010) ada 7 hal mengenai serat, yaitu:

1. Semua serat terbuat dari bahan yang sama
Kabar tersebut salah, karena ada dua jenis serat yang memiliki fungsi berbeda yaitu serat yang bisa dicerna dan tidak bisa dicerna. Serat yang tidak bisa dicerna strukturnya lebih tebal dan kasar serta tidak akan larut dalam air, contohnya adalah dedak gandum, kacang-kacangan dan sayuran lain.

Sedangkan serat yang larut nantinya akan berbentuk seperti gel di dalam saluran pencernaan, sehingga memungkinkan untuk memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah. Contohnya adalah buncis, tauge, oats dan buah-buahan. Jika dikonsumsi secara teratur telah terbukti dapat menurunkan jumlah LDL (kolesterol jahat).

2. Serat tidak memiliki kalori
Kabar tersebut salah, karena serat juga terdiri dari molekul gula. Dalam usus besar, serat yang larut akan diubah menjadi asam lemak rantai pendek yang berarti menyediakan atau memiliki sedikit kalori.

3. Serat bisa membantu menurunkan berat badan
Kabar tersebut benar, karena kalori yang dihasilkan oleh serat lebih sedikit sehingga bisa mengendalikan berat badan. Serat yang dikonsumsi membutuhkan tenaga ekstra untuk mengunyah dan memperlambat penyerapan nutrisi di usus, sehingga tubuh akan berpikir bahwa ia sudah cukup makan. Selain itu beberapa serat juga dapat merangsang CCK, yaitu hormon yang dapat menekan nafsu makan di usus.

4. Suplemen serat menyehatkan
Kabar tersebut benar. Misalnya inulin yang merupakan serat larut dari hasil ekstraksi akar chicory, selain meningkatkan asupan serat juga dapat menggantikan lemak. Inulin dikenal sebagai prebiotik yang berarti dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehat di dalam usus.

5. Serat bisa membantu mencegah kanker usus besar
Hal tersebut mungkin saja terjadi. Pada studi di Eropa yang melibatkan lebih dari setengah juta orang didapatkan mengonsumsi makanan tinggi serat bisa menurunkan risiko kanker usus besar (kolorektal) sebesar 40 persen. Kemudian dalam review Journal of American Medical Association 2005 didapatkan bahwa orang yang mengonsumsi banyak serat tidak memberikan manfaat apapun.

Karenanya sampai saat ini kabar tersebut masih menjadi kontroversi. Konsumsi makanan tinggi serat selalu berhubungan dengan pencegahan beberapa penyakit kronis, untuk itu ada kemungkinan juga bisa mencegah kanker usus besar.

6. Seseorang membutuhkan 38 gram serat setiap hari
Hal tersebut tidaklah benar, karena angka tersebut merupakan rekomendasi dari Institute of Medicine. Dalam sebuah studi ditemukan korelasi bahwa asupan serat yang tinggi bisa menurunkan penyakit jantung, dan didapatkan bahwa tidak ada satupun yang mengonsumsi serat sebanyak 38 gram tapi rata-rata hanya sekitar 20-an sampai 30-an gram serat. Jadi meskipun tidak sampai 38 gram, serat yang dikonsumsi tetap bermanfaat bagi tubuh.

7. Mengonsumsi serat adalah hal yang sulit
Hal tersebut tidaklah benar, karena hanya diperlukan sebuah strategi sederhana. Seseorang bisa mengonsumsi berbagai jenis makanan yang kaya serat serta mengurangi makanan siap saji.

Obat-obatan yang Bikin Gemuk

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Foto: thinkstock
Jakarta, Tubuh kurus tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang yang sakit-sakitan. Kenyataannya, banyak yang justru menjadi gemuk setelah sakit karena beberapa obat memang dapat meningkatkan nafsu makan.

Dikutip dari Dailymail, Selasa (31/8/2010), beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan pasien menjadi lebih gemuk ketika sembuh dari sakit adalah sebagai berikut.

Steroid Steroid banyak digunakan untuk mengatasi alergi, asma dan rhaumatoid arthritis. Obat ini bekerja dengan menjaga keseimbangan hormon yang mengatur metabolisme dan daya tahan tubuh.

Namun penggunaan steroid dapat memicu distribusi lemak tubuh ke bagian perut dan leher bagian belakang sehingga menyebabkan Cushing's Syndrome. Steroid juga menyebabkan berat badan meningkat rata-rata 7 persen, bahkan mencapai 12 kg pada penggunaan jangka panjang.

Obat-obat diebetes Salah satu obat untuk diabetes tipe-2 adalah sulfonylurea. Obat ini meningkatkan produksi insulin agar kadar gula turun, namun sekaligus memicu rasa lapar sehingga menyebabkan berat badan meningkat rata-rata 2-4 kg.

Obat diabetes lain yang menyebabkan gemuk adalah thiazolidinediones (TZD). Namun efeknya tidak sebesar sulfonylurea, hanya menyebabkan kenaikan berat badan sekitar 1-2 kg pada pemakaian terus menerus selama 1 tahun.

Antialergi Obat-obat antialergi yang mengandung diphenhydramine dapat menghambat pengeluaran histamin, senyawa yang memicu reaksi alergi. Namun obat tersebut juga mempengaruhi reseptor di otak yang mengatur rasa lapar, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan sekitar 1 persen pada pemakaian jangka panjang.

Antihipertensi Obat-obatan golongan beta-blocker yang meliputi propranolol, metoprolol dan atenolol dapat mengatasi tekanan darah tinggi dengan cara menghambat kerja hormon adrenalin. Namun obat ini juga membuat metabolisme menjadi lebih lambat, sehingga pasien sering merasa letih dan cenderung jarang bergerak.

Dalam jangka panjang, kurang olahraga akan menyebabkan berat badan meningkat. Jika tidak diatasi, dalam beberapa tahun berat badan bisa meningkat hingga 4-8 kg.

Antidepresan Obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi depresi antara lain trisiklik dan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor). Keduanya dapat membuat reseptor di otak tidak bisa membedakan rasa lapar dan kenyang, sehingga nafsu makan tidak terkontrol.

Seorang psikiater dari Newcastle University, Paul Mackin mengatakan 25 persen pasien yang mendapat SSRI mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10 persen dalam pemakaian selama 6 bulan. Dalam jangka yang sama, trisiklik menyebabkan kenaikan berat badan paling banyak 13-20 kg.

Obat kanker Meski sebagian besar obat kemoterapi menyebabkan tubuh menjadi kurus, beberapa obat justru meningkatkan nafsu makan serta berat badan. Di antaranya adalah megestrol asetat dan tamoxifen, yang digunakan untuk mengobati kanker payudara dan kanker endometrium.

Karena efek samping tersebut, megestrol asetat juga digunakan juga untuk membangkitkan nafsu makan pada penderita anoreksia. Dalam jangka pemakaian selama 6 bulan, obat ini dapat membuat berat badan meningkat hingga 9 kg.



Sumber : Detik.com

6 Penyakit yang Sering Salah Diagnosis

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Beberapa penyakit terkadang memiliki gejala yang sama, sehingga salah diagnosis bisa saja terjadi. Karena itu ketahui 6 penyakit atau kondisi pada perempuan yang sering salah diagnosis.

Jika penyakit yang diderita tak kunjung sembuh atau membaik, tak ada salahnya untuk mencari tahu apa penyebabnya. Ada kemungkinan hal tersebut diakibatkan kesalahan diagnosis, sehingga penyakit yang sebenarnya atau yang mendasarinya belum terobati.

Setiap dokter memiliki kemungkinan melakukan kesalahan diagnosis, meski demikian jika pasien tidak merasa lebih baik sebaiknya usahakan untuk mencari alternatif lain.

Dikutip dari Sheknows, Selasa (31/8/2010) ada beberapa kondisi kesehatan yang paling sering mengalami kesalahan diagnosis bagi perempuan, yaitu:

1. Perut kembung
Sebagian besar perempuan sering mengalami perut kembung, misalnya setelah makan, sekitar masa menstruasi, terlalu banyak mengonsumsi garam atau stres. Kondisi ini bisa terjadi pada tahapan ringan hingga parah.

Namun beberapa kasus kembung yang serius bisa jadi sebagai gejala dari kanker ovarium atau pertumbuhan bakteri yang terlalu cepat di usus kecil (divertikulitis).

2. Sindrom iritasi usus besar (Irritable bowel syndrome/IBS)
Penyakit ini termasuk salah satu yang sering terjadi kesalahan diagnosis. Biasanya didiagnosis sebagai gangguan perut kembung sederhana atau sebagai gejala PMS.

Gejala yang ditimbulkan dari IBS adalah sakit perut yang parah, kram, gas berlebih, pola buang air besar yang tidak teratur (diare, sembelit atau keduanya). Kondisi ini bisa diobati dengan perubahan pola makan, seperti perbanyak mengonsumsi serat.

3. Penyakit jantung

Penyakit jantung termasuk salah satu penyakit yang mematikan dan seringkali salah didiagnosis sebagai penyakit heartburn (rasa terbakar di perut) atau kecemasan berlebih. Karena gejala penyakit jantung yang timbul seperti nyeri dada, sesak napas dan mual, merupakan gejala dari dua penyakit tersebut.

Gejala penyakit jantung yang lain adalah jantung berdebar, pusing dan kelelahan di siang hari meski mendapat istirahat malam yang cukup.

4. Fibromyalgia
Fibromyalgia sering disebut sebagai 'penyakit yang tak terlihat (invisible disease)'. Hal ini karena sulit untuk mendiagnosa dan juga relatif jarang terjadi. Sebagian besar gejala yang muncul adalah rasa geli di kulit, nyeri otot dan kejang, kelemahan tungkai dan bahkan sakit pada saraf.

Gejala yang timbul bisa bervariasi dari orang ke orang, sehingga sering diartikan sebagai depresi, lupus, penyakit Lyme, gangguan tidur atau gangguan tiroid.

5. Penyakit tiroid
Karena gejala yang umum terjadi adalah kenaikan berat badan, kulit kering, kuku yang rapuh, sembelit serta rasa sakit atau nyeri, maka penyakit tiroid sering kali salah didiagnosis.

Misalnya didiagnosis sebagai depresi, ketidakseimbangan hormon atau pada usia lanjut sebagai gejala menopause. Gejala penyakit ini terjadi bertahap, sehingga kadang sulit didiagnosis oleh dokter.

6. Sindrom kelelahan kronis (Chronic fatigue syndrome)
Saat seseorang lelah, biasanya dengan istirahat akan hilang. Tapi untuk sindrom ini tidak cepat hilang dan biasanya ditandai dengan kelesuan, lekas marah, nyeri otot dan dalam beberapa kasus terjadi hilangnya memori.

Gejala ini seringkali didiagnosis sebagai flu, pilek atau penyakit infeksi lainnya. Tidak ada tes yang tepat untuk penyakit ini, tapi dokter harus mampu menyingkirkan penyakit lain melalui beberapa tes.